Khalil Gibran, dari SSB Peta ke Persika, Hingga Mimpi Membela Timnas Indonesia

Jumat , 06 Juli 2018 | 20:08 | view: 1504
Khalil Gibran, dari SSB Peta ke Persika, Hingga Mimpi Membela Timnas Indonesia
Pemain bertahan Persika Karawang, Khalil Gibran (foto/istimewa)

Featured:

Memang tak mudah mencari irisan yang bertautan antara Karawang dan sepak bola. Di sana, di kota lumbung padi yang makin hari lahan pertaniannya makin tergerus pesatnya industrialisasi, sepak bola memang tak sepopuler di Bandung ataupun Jakarta.

Klub sepak bola di sana, Persika Karawang, tak pernah sekali pun mengecap manisnya menjadi kampiun di tingkat nasional. Jangankan mencicipi juara, untuk dapat sampai ke kompetisi kasta tertinggi pun, klub berjuluk Laskar Jawara itu tak pernah mampu.

Dampaknya adalah, akan sulit ditemui pesepakbola kanak-kanak di sana yang punya mimpi menjadi pemain Persika. Yang terlintas di kepala mereka hanya, jika besar kelak, kaki-kaki tangguh mereka akan dipakai untuk berlaga di kesebelasan ternama seperti Persib ataupun Persija.

Hal tersebut tentu saja dapat dimaklumi, karena memang gaung sang Laskar Jawara belum senyaring laiknya dentuman keras Maung Bandung dan Macan Kemayoran di kancah persepakbolaan nasional.

Namun, seperti rumusan kehidupan yang tak pernah kenal kata mustahil. Ketidakmungkinan atas sesuatu yang terlihat tak mungkin, akan selalu jadi mungkin pada beberapa fenomena. Dan berkaitan akan hal itu, serta menyoal fenomena minimnya mimpi anak asli Karawang yang berhasrat untuk jadi pemain Persika, akhirnya terjawab oleh satu nama.

Khalil Gibran!

Namanya memang tak sebesar Evan Dimas ataupun Egy Maulana Vikri, skill mengolah bola nya pun tak selincah Ricko Simanjuntak atapun Febri Hariadi. Tapi jangan tanya soal seberapa besar tekad dan militansinya ketika sedang berlaga di lapangan hijau. Dia lugas, dia tak kenal kompromi, dia tegas juga berdedikasi tinggi.

Ibang, biasa ia dipanggil, adalah remaja kelahiran Karawang, 13 Maret 1998 silam. Dia anak ketiga dari 4 bersaudara yang sejak kecil hingga kini tinggal di sebuah Desa di ujung utara Karawang. Telukambulu nama desanya, dan Batujaya nama kecamatannya.

Jangan tanya di mana letak geografis Batujaya jika tak pernah singgah lama di Karawang. Jika nama Karawang saja sudah nyaris tak terdengar dari titik rahim tempat lahirnya pesepakbola nasional, bagaimana dengan Batujaya!

Tapi justru dari situ lah, dari tempat yang bahkan sering di sebut sebagai daerah antah berantah, karena jauhnya jarak tempuh dari pusat kota Karawang ke daerah itu. Lahir remaja tangguh yang punya mimpi besar membawa Persika Karawang bergema di kancah sepak bola nasional.

Memang tak sedikit jumlah pesepakbola usia muda berbakat di negeri ini, tapi yang punya cita-cita membela klub asal kota kelahirannya sendiri amatlah sedikit. Terlebih klub itu tak pernah tampil di kompetisi kasta tertinggi. Dan Ibang adalah sebuah pengecualian akan hal itu.

Berposisi sebagai bek kiri, Khalil Gibran main tanpa kompromi jika sudah berhadapan dengan pemain lawan. Tubuh kecilnya tak pernah gentar berduel dengan striker lawan di atas lapangan hijau. Tak peduli itu pemain asing ataupun lokal, jika sudah saling berhadap-hadapan, pantang baginya untuk mengenal kata takut.

Sejak kecil, si kulit bundar memang sudah familiar bagi Ibang, ayahnya adalah pecandu akut sepak bola yang juga tercatat sebagai perwakilan salah satu klub di AsKab Karawang. Kakak sepupunya merupakan mantan pemain yang pernah malang melintang di beberapa klub besar di Indonesia, seperti Persib U-23, Persikota serta Persika.

Ibang kecil yang sering ditempa latihan fisik dan tekhnik dasar bermain sepak bola dari sepupunya itu, kemudian menjelma jadi remaja tangguh yang punya kemampuan mengolah si kulit bundar di atas rata-rata anak seusianya.

Wajar jika di usianya yang kala itu belum genap berusia 14 tahun, ia sudah terpilih jadi pemain Pelita Jaya U-14, dan berlanjut lagi ke level U-15. (Saat itu Pelita Jaya sedang menempati home base di Karawang-Red).

Setelah Pelita Jaya hengkang dari Karawang, dan di saat yang sama Persika mulai kembali membangun puing-puing semangat untuk kembali berdiri, nama Ibang kembali lolos seleksi untuk bergabung di tim U-15 Laskar Jawara. Karirnya terus mananjak sampai ke level U-16, U-17, hingga akhirnya mampu menembus skuat senior tim Persika di usia 19 tahun.

Namun siapa sangka, kecemerlangan karir Ibang saat ini, ternyata didapat dari tempat latihan yang amat sangat sederhana. Kamp latihan sederhana yang pada akhirnya menjadi cikal bakal lahirnya Sekolah Sepak Bola (SSB) yang kemudian diberi nama PETA.

Ibang berlatih sepak bola di tempat yang jauh dari kata sempurna. Tak ada fasilitas mewah laiknya kamp latihan Persib di Sidolig sana. Di sana hanya tersedia, lapang luas berdebu, tiang gawang penuh karat, sebuah bola sepak dan beberapa tumpukan batu yang disusun menyerupai Cone Hurdles yang sering dipakai untuk latihan juggling bola secara zigzag.

Tapi dengan segala keterbatasan sarana tersebut, serta dibalut dengan kerja keras dan dibumbui kesabaran ekstra, akhirnya Ibang berhasil meraih separuh mimpinya yang telah lama ia idam-idamkan.

Kini Ibang menjadi salah satu pemain utama di kubu Persika Karawang. Berkat kerja sama tim yang solid serta kedegilannya saat bermain, Laskar Jawara, di akhir kompetisi musim lalu mampu selamat dari jurang degradasi ke kasta ketiga sepak bola Indonesia, setelah melalui fase play off.

Walaupun saat ini Persika hanya mampu berkompetisi di kasta kedua, namun Ibang tetap bangga, karena memang itulah yang ia cita-citakan sejak awal. Bermain sepak bola untuk tim kebanggaan yang berlokasi di tanah kelahirannya sendiri.

Dengan kerja keras serta semangat pantang menyerah, Khalil Gibran mampu menunjukan pada dunia, bahwa ia yang hanya berasal dari kawasan antah berantah bernama Batujaya, bisa berprestasi dengan segala kekurangan sarana dan prasarana.

Hal itulah yang pada akhirnya menginpirasi anak-anak lainnya di Batujaya untuk kemudian giat berlatih di lapang yang sama, di tempat dengan sarana yang hampir sama dengan Ibang dulu, namun dengan struktur latihan yang lebih baik.

Di lapang berdebu itu, kini berdiri Sekolah Sepak Bola Pemuda Telukambulu (SSB PETA), yang tetap dinahkodai oleh orang yang sama, yang dulu pernah mendidik Ibang hingga sukses seperti sekarang ini.

Dan kini dengan semua pencapaian yang telah Ibang raih, dia hanya menyisakan dua fase mimpi yang belum ia capai.

Pertama, ia bersama rekan satu timnya di Persika, ingin berjuang mati-matian agar Laskar Jawara mampu melewati musim kompetisi Liga 2 2018 dengan sebaik mungkin, hingga kemudian mampu tembus ke Liga 1.

Dan yang kedua, menyoal pencapaian individu, ia akan terus bekerja keras untuk sampai pada level permainan maksimal yang bermuara pada titik sempurna, yakni Tim Nasional Indonesia.

(Rijal)

KOMENTAR