Beny Mauko: Sistem Sonasi Hasilkan Persaingan Akademik dan Non Akademik Secara Sehat

Rabu , 11 Juli 2018 | 13:23 | view: 1270
Beny Mauko: Sistem Sonasi Hasilkan Persaingan Akademik dan Non Akademik Secara Sehat
Kepsek SMP Negeri 16 Kota Kupang, Beny Mauko
POPULER

SEVENSPORTAINMENT - Polemik pemberlakuan sistem sonasi yang diatur dalam Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) secara online maupun offline tahun 2018 yang menuai pro kontra membuat Kepala Sekolah SMP Negeri 16 Kupang, Beni Mauko turut berkomentar. Menurutnya, sistem sonasi yang diatur dalam PPDB menimbulkan persaingan akademik dan non akademik menjadi sehat dan merata.

Hal ini disampaikan Kepala Sekolah SMP Negeri 16 Kota Kupang, Beny Mauko kepada SEVENSPORTAINMENT.COM di ruang kerjanya, Rabu (11/7/2018) siang. Menurutnya, sistem sonasi yang sudah diterapkan mesti dipertahankan karena sudah memberikan asas keadilan dan transparansi bagi masyarakat maupun kualitas pendidikan akan merata.

"Saya pikir begini, sebagus apapun sistem yang digunakan pasti ada pro kontra karena pastinya tidak memuaskan semua pihak. Nah, kalau sistem sonasi ini bagi saya sudah sangat tepat karena semua masyarakat dimudahkan untuk tidak susah mencari sekolah. Sona ini kan mengatur soal jarak dari rumah ke sekolah jadi mestinya masyrakat tidak lagi sibuk mencari sekolah lain," ujarnya.

Lebih lanjut Mantan Guru  SMPN 12 Kupang tersebut menjelaskan, sistem sonasi merupakan jalan terbaik untuk membenahi sistem pendidikan di NTT. Katanya, dengan adanya sonasi maka akan terjadi pemerataan siswa, guru, dan sarana prasarana secara baik.

"Jadi sistem ini semestinya jalan terbaik untuk pembenahan sistem pendidikan kita di NTT. Kalau sudah ada pemerataan guru, siswa dan sarana prasarana pasti akan menghasilkan output yang baik di setiap sekolah. Jadi dengan sendirinya tidak ada lagi yang namanya sekolah favorit dan non favorit. Ini yang mesti dipahami," jelas Kepsek Berprestasi Tingkat NTT.

Kunci sukses sistem ini bisa diterima secara baik ditengah masyarakat, sebut Beny, perlu adanya sosialisasi secara masif dari semua stakeholder. Lembaga eksekutif, legislatif, para pemangku kepentingan, pemerhati pendidikan dan media turut memberikan sumbangsih agar program ini bisa diterima dan dilaksanakan secara baik.

"Hemat saya, kalau semua pemangku kepentingan bisa menjelaskan secara baik maka saya yakin program ini berhasil. Bapak/ibu anggota dewan mestinya bisa jelaskan ini tiap kali reses di masyarakat. Liat saja PPDB tingkat SMP di Kota Kupang, kan tidak ada lagi demo disana sini. Jadi, seiring waktu berjalan pasti diterima. Apapun kondisinya harus tetap dipertahankan," tegas Beny.

Beny juga menyoroti tentang peran kepala sekolah yang turut memberikan andil dalam membangun kepercayaan publik terhadap sebuah sekolah.

"Leader itu sangat penting dalam menarik minat masyarakat. Seorang kepsek perlu ada program-program inovatif, kreatif dan memberikan rasa nyaman bagi siswa. Mampu membangun sinergitas yang baik. Saya pikir kalau semua ini sudah dilakukan maka dengan sendirinya masyarakat tidak lagi ke sekolah-sekolah tertentu tapi cukup di sekolah terdekat," kata orang nomor satu di SMP 16 tersebut.

Terkait masih rendahnya minat masyarakat terhadap sekolah swasta, Beny mengungkapkan, pemerintah perlu melakukan pendekatan dan intervensi dalam merasionalisasi biaya sekolah agar mampu dijangkau oleh masyarakat. (Hendrik)

KOMENTAR